Senin, 20 Mei 2013

makalah Fiqh Ibadah "JENAZAH"


Tugas Kelompok                                                                Dosen Pembimbing
    Fiqih Ibadah                                                                        Zuraidah. M.Ag


JENAZAH
( Kewajiban Terhadap Jenazah ,
Shalat Jenazah dan Ziarah Kubur )




DISUSUN OLEH :

Kelompok I
                                                DESI NURMALA SARI
                                                            FARIDA
                                                            JARIYAH
                                                            WINARTI


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2012 / 2013


KATA PENGANTAR
Assalamu ‘alaikum ..
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. Karena dengan berkat taufik dan hidayahNya kami bisa menyelesaikan makalah ini. Shalawat beserta salam tercurah kepada Nabi Muhammad saw serta sahabat dan keluarga hingga akhir zaman.
Pada makalah ini kami membahas tentang kewajiban terhadap jenazah, shalat jenazah dan ziarah kubur.  Pembahasan tentang jenazah, dewasa ini banyak dikalangan masyarakat sekitar yang belum sepenuhnya mengetahui bagaimana mengurus jenazah dengan tertib dan sesuai ajaran Islam. Semoga dengan makalah ini pendidikan ajaran Islam khususnya Fiqih Ibadah akan lebih sesuai dengan sumber yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Namun demikian, disadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dan terdapat kesalahan pada penulisan ataupun referensi yang masih kurang memadai. Pemakalah memohon maap dan semoga upaya pemakalah ini mendapat bimbingan dan Ridha Allah swt.
Amin yaa Rabbal ‘Alamin




November, 2012

                                                                             Penulis





i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………..    i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….    ii
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ……………………………………………………………   1
B.     Rumusan Masalah ………………………………………………………...   1

PEMBAHASAN
A.    Kewajiban Terhadap Jenazah …………………………………………….   2
B.     Shalat Jenazah dan Ziarah Kubur ………………………………………...   8

PENUTUP
A.    Kesimpulan ……………………………………………………………….   12
B.     Saran ………………………………………………………………………  12

DAFTAR KEPUSTAKAAN












ii
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Selama ini kendala utama yang dihadapi khususnya masyarakat umum –khususnya kaum muallaf- adalah tentang jenazah. Secara teori mungkin mereka sudah menguasai, namun ternyata masih banyak di kalangan awam yang mempertanyakan bagaimana tata cara dan apa saja yang harus dilakukan mengenai jenazah.
Seorang muslim hendaknya muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menyongsong kematian dengan memperbanyak amal shalih dan menjauhkan diri dari perkara haram. Hendaklah kematian itu selalu berada direlung hatinya berdasarkan sabda Nabi saw, yang berbunyi :
اكثروا ذكر هاذم اللذا ت
“Perbanyaklah mengingat sang pemutus kelezatan.!” ( yakni kematian ). (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-irwa’ hal 682).

B.     Rumusan Masalah
Dalam rumusan masalah ini kita akan mengetahui tentang
1.      Apa saja kewajiban seorang yang masih hidup terhadap seorang yang sudah mati (jenazah) ?
2.      Tata cara memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah ?
3.      Hukum dan syarat terhadap jenazah ?
4.      Shalat-shalat apa saja yang bisa dilakukan untuk jenazah ?
5.      Bagaimana ziarah kubur bagi laki-laki dan perempuan ?








1
PEMBAHASAN
A.    KEWAJIBAN TERHADAP JENAZAH
Apabila seorang muslim meninggal dunia, ada dua kewajiba yang harus segera diselesaikan oleh pihak yang masih hidup, yaitu pertama kewajiban terhadap jenazah, dan kedua kewajiban terhadap harta waris.
Kewajiban kaum muslimin yang masih hidup terhadap jenazzah terdiri dari empat macam, yaitu termasuk fardhu kifayah. Kewajiban itu adalah ;
1.      Memandikan
2.      Mengafani
3.      Menyalatkan
4.      Menguburkan

Dibawah ini akan dijabarkan satu persatu tentang pelaksanaan kewajiban umat muslim yang masih hidup terhadap jenazah.

1.      MEMANDIKAN JENAZAH
a.       Hukum Memandikan
Kebanyakan ahli fiqih mengatakan bahwa hokum memandikan jenazah seorang muslim adalah fardhu kifayah. Akan tetapi masih ada diantara ahli fiqih yang mengatakan hukumnya sunah kifayah. Perbedaan pendapat ini muncul disebabkan adanya hadits Nabi saw berikut :
عن ابن عباس رضي االله عنهما ان النبي صلى الله عليه وسلم قال اغسلوا بماء وسدر وكفنوه في ثوبيه  (متفق عليه)
Dari Ibn Abbas ra., sesungguhnya Nabi saw bersabda mandikanlah mayat itu dengan air dan bidara dan kafanilah ia dengan kedua pakaiannya.” (HR Muttafaq ‘alaih).
b.      Orang yang Berhak Memandikan
Para ahli fiqih sepakat mengatakan bahwa yang akan memandikan mayat laki-laki adalah laki-laki dan yang memandikan mayat perempuan adalah perempuan.
Sebagian ahli fiqih berpendapat atas bolehnya suami memandikan mayat istrinya atau sebaliknya dengan syarat perkawinan mereka tidak terputus oleh talak sampai salah seorang diantara keduanya wafat. Namun demikian mereka mengatakan bahwa antara suami istri itu tidak boleh memandikan dengan tangan telanjang, tidak pula dibolehkan memandang ke bagian yang terlarang dari mayat.
c.       Syarat-Syarat Orang yang Memandikan
Fuqaha telah menetapkan beberapa hal yang menjadi syarat bagi keabsahan orang untuk memandikan jenazah yaitu,
1.beragama Islam
2.niat
3.berakal

2

d.   Cara Memandikan
      Sebelum memulai jenazah  seharusnya lebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang diperlupakan pada saat memandikan, yaitu :
1.      Tempat memandikan terletak pada ruangan tertutup untuk menghindari fitnah
2.      Menyediakan air bersih, sabun, air kapur, dan wangi-wangian secukupnya
3.      Menyediakan sarung tangan dan potongan serta gulungan kain kecil sebagai alat penggosok tubuh jenazah
4.      Kain basahan dan handuk atau kain lain yang dapat mengeringkan jenazah setelah dimandikan
Setelah semuanya terrsedia, jenazah diangkat dan diletakkan pada tempat yang sudah disiapkan. Sebelum mulai memandikan lebih dahulu membersihkan tubuhnya dari najis atau kotoran dengan cara sebagai berikut:
1.      Menutupi sekujur tubuhnya dengan kain panjang. Jenazah tidak boleh dalam keadaan telanjang
2.      Memasang kain sarung tangan bagi yang memandikan, kemudian memulai membersihkan tubuh jenazah dari semua kotoran dan najis. Untuk mengeluarkan kotoran dari rongga tubuhnya dapat dengan menekan perutnya secara perlahan-lahan
3.      Selama membersihkan badannya sebaiknya air terus dialirkan mulai dari bagian kepala ke bagian kaki
4.      Setelah semua badannya dianggap bersih baru jenazah diwudhu’kan seperti wudhu’ orang yang hidup
Selesai membersihkan dan mewudhu’kan jenazah, maka kegiatan selanjutnya adalah memandikannya dengan cara sebagai berikut:
1.      Mengalirkan air ke sekujur tubuhnya dengan memulai dari bagian kepala sebelah kanan sampai ke kaki, kemudian melanjutkannya ke bagian kiri dengan cara yang sama
2.      Membersihkannya dengan air sabun yang berakhir dengan air bersih yang telah bercampur dengan wangi-wangian
3.      Memandikan jenazah itu sebaiknya dilakukan tiga kali atau lebih dengan cara yang sama sehingga diyakini kebersihannya, sebagaimana yang diperintahkan Nabi saw melalui sabdanya :

عن ام عطية قلت دخل علينا النبي صلى الله عليه وسلم و نحن نغسل ابنته فقل اغسلنها ثلاث او خمسا او اكثر من ذلك ان رايتن ذلك بماء وسدر واجعلن فى الاخرة كفور او شيئا من كفور  . متفق عليه
Dari Ummi ‘Athiyah ia berkata Nabi saw mendatangi kami, ketika kami sedang memandikan jenazah putrinya ketika itu beliau berkata: mandikanlah dia tiga atau lima kali atau jika dipandang perlu, lebih dari itu, dengan air dan daun bidara, dan basuhlah yang terakhir dengan air yang bercampur dengan kapur barus atau dari wangi-wangian yang sebangsa kapur barus.” (HR Muttafaq ‘Alaih)
3
4.      Setelah selesai memandikan, maka tubuhnya dikeringkan dengan handuk yang halus, dan kemudian menutupi baddannya kembali untuk dipindahkan ketempat pengafanan.

2.      MENGAFANI JENAZAH
a.       Hukum Mengafani Jenazah
Seperti memandikan, hokum mengafani pun fardhu kifayah. Kewajiban mengafani jenazah ini ditetapkan berdasarkan hadits:

عن ابن عباس رضي االله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال كفنوا فى ثوبيه .    رواه الجما عة
Dari Ibn Abbas ra., sesungguhnya Nabi saw berkata:”kafanilah dia (orang yang mati ketika ihram) dengan kedua pakaiannya”. (HR al-jamaah)
b.      Ketentuan Kafan
Kain yang digunakan untuk pengkafan jenazah minimal satu lapis yang dapat menitupi seluruh tubuhnya, baik terhadap jenazah laki-laki ataupun perempuan. Sedang warna yang paling afdol adalah warna putih.
Kain kafan yang digunakan untuk jenazah laki-laki maksimal tiga lapis tanpa baju dan sorban. Sedangkan kain kafan untuk jenazah perempuan maksimal lima lapis yang terdiri dari selendang, baju, kain sarung, dan dua lapis untuk pembungkus seluruh tubuhnya.
c.       Cara Mengafani
Jika jenazah itu laki-laki maka cara mengkafaninya adalah sebagai barikut:
1.      Membentangkan kain-kain kafan yang telah disediakan sebelumnya sehelai demi sehelei. Kemudian menaburinya dengan wangi-wangian. Lembaran yang paling bawah hendaknya dibuat lebih lebar dan luas. Di bawah kain itu, sebelumnya, telah dibentangkan tali pengikat sebanyak lima helai yaitu masing-masing pada arah kepala, dada, punggung, lutut, dan tumit.
2.      Setelah itu, secara perlahan-lahan mayat diletakkan diatas kain-kain tersebut dalm posisi membujur, dan kalau mungkin menaburi tubuhnya lagi dengan wangi-wangian.
3.      Selanjutnya menyelimutkan kain kafan yang dimulai dari kafan sebelah kanan paling atas, kemudian ujung lembaran kain sebelah kiri paling atas, dan disusul dengan lembaran kain berikutnya dengan cara yang sama.
4.      Jika semua kain kafan telah memballut jasad jenazah baru diikat dengan tali yang telah disiapkan dibawahnya.

Jika mayat itu perempuan maka cara mengafaninya adalah sebagai berikut:
1.      Kain kafan sebaiknya disediakan lima lapis dengan ketentuan sebagai berikut:
a.       Lapis pertama dibentangkan paling bawah sebagai paembungkus jasadnya
b.      Lapis kedua dibentangkan diselah kepala sebagai penutup kepala
c.       Lapis ketiga dibentangknan dari bahu ke pinggang sebagai baju kurung
d.      Lapis keempat dibentangkan dari pinggang sampai ke kaki sebagai kain sarung
e.       Lapis kelima dibentangkan pada bagian pinggul yang berfungsi sebagai rok
4
2.      Sebelumnya tali pengikat telah disediakan dibawah jasadnya jenazah yang sudah diletakkan diatas kain tersebut mulai dibungkus dengan cara:
a.       Pertama, memakaikan kain kelima yang terletak dibagian pinggulnya sebagai rok.
b.      Kedua, memakaikan kain keempat sebagai sarung.
c.       Ketiga, memakaikan kain  ketiga sebagai baju kurung.
d.      Keempat, memakaikan kain kedua sebagai penutup kepala.
e.       Kelima, membungkuskan kain pertamakeseluruh tubuh dengan mempertemukan kedua tepi kain dan menggulungkan keduanya kearah kanan ke bagian dalam.
3.      Setelah semua kain di pakaikan menurut fungsinya baru mengikatkan tali yang sudah disediakan dibawahnya.
Kain yang dianjurkan untuk di jadikan kafan, ialah kain yang sederhana, tidak berlebih-lebihan baik dari segi harga maupun jumlahnya. Nabi saw bersabda:

عن علي رضي الله عنه قل سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقولولا تغالوا فى الكفن فانه يسلب سريعا  . رواه ابو داود
Dari ali ra, ia berkata: “aku mendegar Rasulallah saw berkata :”janganlah kamu jadikan kain kafan yang mahal harganya, karena sebentar saja kain itu akan hancur.” (HR Abu Dawud).

3.      MENSHALATKAN JENAZAH
a.       Hukum Menshalatkan Jenazah
Para ahli telah sepakat menetapkan bahwa hokum shalat jenazah itu adalah wajib atau fardhu kifayah berdasarkan hadits Nabi saw, berikut :

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عاليه وسلم صلوا على صا حبكم  .       رواه مسلم و البخارى
Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah berkata: “shalatkanlah (jenazah) sahabatmu.” (HR Muslim dan al-Bukhari).
b.      Syarat-Syarat Shalat Jenazah
Para ahli fiqih menetapkan beberapa syarat untuk sahnya shalat jenazah yaitu :
1.      pada shalat jenazah disyaratkan seperti yang disyaratkan pada shalat wajib, yaitu menutup aurat, suci badan, tempat dan pakaian dari najis dan hadats, serta menghadap kiblat
2.      jenazah yang akan dishalatkan itu sudah lebih dahulu dimandikan dan dikafani bagi yang wajib dimandikan dan dikafani
3.      meletakkan jenazah di sebelah kiblat yang menshalatkan


5
c.       Rukun Shalat Jenazah
Jumhur ahli fiqh menetapkan tiga hal sebagai rukun shalat jenazah yaitu:
1.      Niat
2.      Berdiri selama shalat
3.      Takbir sebanyak empat kali
4.      Membaca surat al-Fatihah
5.      Membaca salawat atas Nabi saw setelah takbbir kedua
6.      Membacakan doa mayat pada takbir ketiga
7.      Salam setelah doa pada takbir keempat
d.      Cara Melaksanakan Shalat Jenazah
Sebagaimana disebut diatas bahwa shalat jenazah sedapat mungkin dilakukan dengan cara berjamaah. Dalam berjamaah, jika jenazah itu laki-laki maka imam mengambil posisi disamping kepala, dan makmum mengambil tempat dibelakangnya secara berbaris-baris. Jika jenazah itu perempuan, maka imam berdiri disamping perutnya.
            Setelah imam dan makmum mengambil posisi seperti ketentuan diatas, maka shalat jenazah dilaksanakan dengan empat takbir. Pada takbir pertama disertai dengan niat menshalatkan jenazah ini empat kali takbir karena Allah.
1.      pada takbir pertama, membaca surat al-Fatihah
بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العا لمين . . . الخ

2.      pada takbir kedua membaca shalawat atas Nabi dengan ucapan :
اللهم صل على محمد و على الى محمد كما صليت على ابراهيم و على ال ابراهيم وبارك على محمد وعلى ال محمد كما بركت على ابرهيم و على ال ابراهيم فى العالمين انك حميد مجيد.
Ya Allah, berilah shalawat (rahmat) atas Nabi dan atas keluarganya, sebagaimana Engkau pernah member rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Engkau pernah melimpahkannya kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Diseluruh ala mini, Engkaulah yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.

3.      pada takbir ketiga membaca doa :
اللهم اغفرله (ها) وارحمه (ها) وعافه (ها) واعف غنه (ها)
Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia.

4.      pada takbir keempat membaca doa sebagai berikut :
اللهم لا تحرمنا اجره (ها) ولا تفتنا بعده (ها) واغفر لنا وله (ها)
Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami memperoleh pahalanya dan janganlah Engkau member fitnah kepada kami sepeninggalnya dan ampunilah kami dan dia.


6
Setelah selesai membaca doa pada takbir keempat, maka shalat jenazah ditutup dengan mengucapkan salam :
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Keselamatan, rahmat, dan berkah atas kamu sekalian.

4.      MENGUBURKAN JENAZAH
a.       Hukum Menguburkan Jenazah
Para ahli telah sepakat bahwa memakam atau menguburkan jenazah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana halnya memandikan, mengafani dan menyalatkan. Kewajiban ini di tetapkan berdasar ayat Al-Qur’an berikut :
ثم اماته فاقبره
Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. (QS. 80:21)
b.      Cara Menguburkan
Untuk memasukkan jenazah ke dalam kubur yang telah dipersiapkan, satu atau dua rang turun ke dalam kubur untuk menyambut dan mengatur posisi jenazah di dalamnya. Kemudian pengantar yang ada diatas memasukkan jenazah dengan memulai dari bagian kaki kamudian menyusul bagian kepalanya. Orang yang lebih baik memasukkannya adalah kerabatnya, jika meraka tidak ada baru yang lain. Jika jenazahnya perempuan, maka yang lebih utama menguburkannya ialah mahramnya.
Setelah meletakkan jenazah di dalam kubur, posisinya diatur dengan memiringkan tubuhnya ke arah kiblat. Setelah itu menutupinya dengan papan pelindung dan selanjutnya menimbuninya dengan tanah. Tanah penimbunnya dianjurkan memiliki ketinggian lebih kurang 20 cm dari kedataran tanah. Hal seperti itu diisyaratkan dalam hadits Nabi saw :

عن جابر ان النبي صلى الله عليه وسلم رفع قبره عن الارض قدر شبر.  رواه الشافعى
Dari Jabir ra., diceritakan bahwa kubur Nabi saw ditinggikan dari tanah sekedar satu jengkan. (HR al-Syafi’i)
Di samping meninggikan, di anjurkan pula member tanda dengan batu nisan atau sejenisnya di atas kuburnya, seperti diisyaratkan dalam hadits:

عن جعفر بن محمد عن ابيه ان النبي صلى الله عليه وسلم وضع حصباء على قبر ابيه ابراهيم .     رواه الشافعى
Dari ja’far bin Muhammad dari bapaknya, bahwa Nabi saw meletakkan batu di atas kubur anaknya Ibrahim. (HR al-Syafi’i)





7
B.     SHALAT JENAZAH DAN ZIARAH KUBUR

1.      SHALAT JENAZAH
Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah. Bila dikerjakan sebagian orang, kewajiba gugur dari bagi yang lain. Shalat jenazah disyariatkan Rasulullah saw Beliau dan para sahabat beliau mengerjakan dan memerintahkannya. Bila jenazahnya laki-laki, imam berdiri disebelah kepalanya dan bila jenazahnya wanita, imam berdiri di tengah-tengahnya. Ini dianjurkan. Imam boleh berdiri di selain posisi tersebut dengan syarat jenazah berada di depan.
Shalat jenazah pada asalnya dilakukan secara berjamaah yang dipimpin oleh seorang imam. Imam dianjurkan berasal dari kalangan wali jenazah atau pemimpin suatu tempat. Shalat jenazah boleh dilakukan secara tidak berjamaah seperti yang dilakukan para sahabat ketika meyalati Rasulullah saw. untuk sahnya shalat jenazah disyaratkan beberapa hal seperti yang disyaratkan untuk sahnya shalat biasa. Tidak disyaratkan waktu tertentu dan boleh digunakan di seluruh waktu bahkan pada waktu-waktu terlarang.
            Rukun shalat jenazah adalah sebagai berikut ;
1.      Niat
2.      Berdiri bagi yang mampu
3.      Beberapa kali takbir
4.      Doa untuk jenazah
5.      Sebagian fuqaha menambahkan fatihah
6.      Shalat dilakukan secara pelan (suara tidak dikeraskan) baik dilaksanakan di siang atau di malam hari
7.      Empat kali takbir dan tidak masalah bila ditambah.
8.      Mendoakan si mayit dengan doa yang telah dicontohkan dan itu yang lebih baik.
9.      Mengangkat kedua tangan selain takbir pertama, tidak ada landasan hukum yang bisa dijadikan pedoman dari Rasulullah Diriwayatkan dari sahabat, ada yang mengangkat tangan setiap kali takbir dan ada juga yang tidak mengangkat tangan. Dalil yang kuat adalah tidak mengangkat  tangan dan bagi yang mengangkat tangan tidak perlu diingkari.

Diriwayatkan dari Auf ibnu Malik, ia berkata,”Aku pernah mendengar Rasulullah saw berdoa ketika shalat jenazah,
“Ya Allah! Ampuni dan rahmatilah dia, maafkan dan berilah dia keselamatan, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan es. Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan seperti baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Berilah ia tempat tinggal yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya dan jagalah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka.” (HR. Muslim dan Nasai)

8
Shalat jenazah hukumnya fardhu bagi setiap muslim, muda ataupun tua. Bahkan bagi keguguran yang lahir dalam keadaan hidup kemudian mati, bahkan orang keji, fasik, pembunuh, bunuh diri dan ahli bid’ah selama tidak sampai pada tingkat kekufuran secara terang-terangan.
Boleh mengulang-ulang doa untuk mayit meski dilakukan di atas kubur. Jenazah yang dikubur tanpa dishalatkan wajib dishalati meski sudah berada didalam kubur dan meski sudah lama berlalu karena tidak ada dalil yang membatasi shalat jenazah sebagaimana shalat jenazah juga boleh dilakukan terhadap jenazah yang jauh (shalat ghaib).
Imam mengatur makmum shalat jenazah menjadi tiga shaf atau lebih. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :

من صلى عليه ثلاثة صفوف فقد او جبت . رواه الترمذى
“Barang siapa menshalatkannya dengan tiga baris, maka telah dipastikan pahalanya.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan).
Shalat jenazah boleh dilakukan dimasjid namun tidak boleh dijadikan kebiasaan karena hal itu bukanlah kebiasaan Rasulullah saw dan tidak pula sahabat sepeninggal beliau.
Bila jenazah lebih dari satu, imam boleh meletakkannya menjadi satu baris dan semuanya dishalatkan satu kali. Bila jenazah yang ada beberapa laki-laki dan perempuan, imam mengedepankan jenazah lelaki di hadapannya dan jenazah perempuan ditempatkan setelah jenazah lelaki.

a.       Shalat Ghaib
Dibolehkan seseorang jenazah yang berada di tempat (daerah) lain. Shalat jenazah ini disebut dengan shalat ghaib. Caranya sama dengan cara menyalatkan shalat jenazah yang ada dihadapannya. Orang yang melakukan shalat ghaib tetap harus menghadap kiblat, meskipun jenazah yang dishalatkan berada si tempat (daerah) yang tidak pada arah kiblat. Dalam hadits Nabi diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

توفى اليو م رجل صا لح من الحبش فهلموا فصلوا عليه فصففنا خلفه فصلى رسولو الله صلى الله عليه وسلم و نحن صفوف . رواه البحا رى و مسلم عن جابر
Pada hari ini telah meninggal dunia seorang yang shalih dan habsyi, maka marilah kita menyalatkannya. Kemudian kami berbaris dibelakang beliau lalu Rasulullah saw menyalatkannya dan kami terdiri dari beberapa baris.” HR Al Bukhari dan Muslim dari Jabir.

b.      Shalat Jenazah di Mesjid
Tradisi masyarakat Islam di Indonesia, terutama yang tinggal di perkotaan, umumnya lebih menyukai menyelenggarakan shalat jenazah di mesjid. Kemudian dari masjid itu jenazah diusung langsung ke pemakaman. Sedang masyarakat Islam yang tinggal di pedesaan umumnya menyelenggarakan shalat jenazah itu di rumahnya sendiri, dan dari rumah itu jenazah diusung langsung ke pemakaman.

9
Para ulama sepakat membolehkan shalat jenazah di rumah kediamannya. Akan tetapi mengenai hukum shalat jenazah di mesjid terdapat perbedaan pendapat mereka. Para ahli fiqh dari mazhab Hanafi dan Maliki memandang makruh menyelenggarakan shalat jenazah di mesjid, baik jenazah itu berada di dalam atau di luar masjid. Alasan mereka adalah hadits Nabi saw seperti berikut :
“Dari Abi Hurairah r.a., bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa yang menshalatkan jenazah dalam masjid, maka dia tidak memperoleh apa-apa (dari shalat itu). (HR Abu Daud dan Ibn Majah).
Jika Nabi menyatakan tidak memperoleh apa-apa orang yang shalat jenazah di mesjid berarti sama dengan pekerjaan sia-sia. Mereka memandang pekerjaan yang sia-sia itu sebagai hal yang makruh. Jika dalam pelaksanaan shalat itu dikhawatirkan dapat mengotori mesjid maka hukumnya menjadi haram, sebab mesjid adalah rumah suci yang dibangun untuk empat peribadatan dan pekerjaan-pekerjaan yang disukai Allah swt.

c.       Shalat Jenazah di atas Kubur
Dibolehkan seorang untuk menyalatkan jenazah yang telah dikubur, dengan melakukannya di atas kuburnya. Diterangkan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas bahwa :
Rasulullah saw sampai ke suatu kubur yang masih basah, kemudian menyalatkannya dan mereka (para sahabat) berbaris dibelakang beliau dan bertakbir empat kali.” HR Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas.

2.      ZIARAH KUBUR
            Menurut mazhab ahlussunnah wal jamah, ruh orang yang telah wafat itu tetap hidup dan mendengar pembicaraan orang yang hidup. Ruh tidak ikut hancuran jasadnya. Jadi yang merasakan azab dan nikmat adalah ruh semata, sedang jasadnya. Tidak merasakan apa-apa lagi setelah ruh pergi meninggalkannya.
            Ulama Salaf mengatakan bahwa ruh bersama badan dapat sama-sama merasakan azab dan nikmat, dan ruh dapat merasakan azab dan nikmat meskipun telah berpisah dengan jasad. Akan tetapi terkadang ruh itu bertemu lagi dengan jasad, saat itu keduanya sama-sama merasakan azab dan nikmat. Jadi melalui ruhnya, ia dapat mendengar dan melihat orang yang datang meziarahi kuburnya, serta merasakan kenikmatan bertemu dengan keluarga.
1.      Hukum Ziarah Kubur.
Para ahli telah sepakat menetapkan bolehnya kaum laki-laki ziarah kubur, berdasarkan hadits:

عن عبد الله بن بريده عن ابيه ان النبي صلى الله عليه وسلم قل كنت نهيتكم عن زيارة القبور الا فزورها .  رواه احمد و مسلم
10
Dari Abdallah bin Burairah. Dari bapaknya, sesungguhnya Nabi SAW berkara: “Dulu aku melarang kamu menziarahi kubur, sekarang ziarahilah kubur itu” (HR Ahmad dan Muslim )
Pada masa awal kelahiran Islam, Nabi SAW melarang menziarah kubur, sebab saat itu masih terbawa oleh kebiasaan kaum jahiliyah yang menghambur-hamburkan pembicaraan dan penyesalan di atas kubur. Mereka juga sering berbuat hal-hal yang bid’ah dan khurafat di sekitar pekuburan. Setelah mereka ada yang masuk Islam, Nabi SAW membolehkan ziarah kubur. Hal itu disebabkan karana tujuan menziarahi kubur itu adalah mengingatkan diri kepada akhirat dan mengambil pelajaran sebanyak mungkin dari kematian itu. Jadi ziarah bukan untuk menyampaikan perasaan dan harapan orang yang sudah mati.

Adapun hukum ziarah kubur bagi kaum perempuan, terdapat perbedaan pendapat para ahli fiqh dari Hanafiyah berpendapat, ziarah kubur disunatkan bagi kaum laki-laki dan perempuan. Akan tetapi kebolehan bagi kaum perempuan menziarahi kubur terbatas kepada mereka yang benar-benar ingin memperoleh ridha Allah pelajaran atau iktibar untuk mempertebal iman kepada Allah SWT dan hari akhirat. Perempuan yang ziarah hanya untuk membangkit-bangkitkan emosi, sebagaimaan kebiasaan orang jahiliyah, tidak dibolehkan bahkan hukumnya haram, berdasarkan hadits Nabi saw:

عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عاليه وسلم لعن زاوارة القبور.            رواه التر مذى          
Dari Abi Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah SAW melaknat wanita-wanita yang menziarahi kubur.(HR al-Turmizi)
Ancaman Rasul saw dengan melaknat Wanita yang ziarah kubur adalah wanita yang menyesali keluarganya dengan cara meratapinya dari atas kubur, karena wanita tidak memiliki kekuatan mental, sedikit penyabar dan emosinya cepat terpengaruh, maka Rasulullah saw, mengancamnya dengan laknat, dan ancaman itu menunjukkan hukumnya makruh. Jika mereka dapat menahan diri dan mengambil hikmah dari ziarah itu, maka hukumnya menjadi sunat.
Jumhur ulama mengatakan bahwa ziarah kubur disunatkatkan bagi kaum laki-laki untuk mengambil pelajaran dari ziarah itu. Sedangkan bagi kaum perempuan hukumnya makruh, kerana ada dugaan kuat mereka akan bersadih hati yang mengakibatkan mereka menangis dan meratap.
2.      Hal-hal yang Dianjurkan dalam Berziarah
Orang yang menziarahi kubur dianjurkan membaca salam setelah sampai di sana, yaitu dengan menghadapkan wajah ke arah kubur sambil membaca:


11
السلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا انشاء ا لله بكم لا حكون

Kesejahteraan buat kalian penghuni kaumpung orang yang beriman, sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul.
Memperbanyak berdoa memohon keampunan untuk mayat penghuni kubur, sesuai dengan firman Allah:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-suadara kami yang telah beriman lebih dari kami . . . (QS.59:10)

Nabi pernah berdoa untuk semua jenazah umat Islam yang ada di pemakaman penduduk Madinah, beliau membaca:
اللهم اغفر لاهل بقيع
Ya Allah, ampunilah penghuni pemakaman Baqi’ ini
          Dari beberapa doa yang dianjurkan itu, dipahami bahwa doa yang lebih baik adalah doa untuk semua penghuni kubur, meskipun yang diziarahi itu hanya satu atau dua kubur dari pamili, karana doa kepada semua umat Islam tidak mengurangi manfaat terhadap arwah orang yang kita utamakan.























12
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tentang jenazah di atas dapat ditelaah bahwa kewajiban seorang muslim satu dengan yang lainnya saling membantu. Begitu pula kewajiban seorang yang hidup terhadap seorang yang mati ialah mengurus jenazahnya. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan jenazah haruslah didasarkan atas perintah-perintah yang telah diajarkan sejak dulu oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula dengan ziarah kubur yang yang disunnatkan bagi kaum laki-laki dan bagi kaum perempuan dimakruhkan.

B.     Saran
Kami menyadari dalam penulisan makalah kami ini mungkin terdapat kekurangan-kekurangan dalam penyampaian materi. Maka dari itu kami harap saran dan kritikannya untuk membangun isi makalah kami ini agar kedepannya menjadi lebih baik. Semoga makalah jenazah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa di terapkan.
























13
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ayub, Hasan,  Fiqih Ibadah . Jakarta : Cakra Lintas Media, 2010
Ritonga M.A, A. Rahman dan Zainuddin M.A, Fiqih Ibadah . Jakarta : Gaya Media Pratama, 1997
Darajat, Zakiah, Ilmu Fiqih . Jakarta, 1982
Abdurrahman al-jibrin, Abdullah, Shalat Jenazah . Solo : At-Tibyan
Uwaidah, Kamil Muhammad, Fiqih Wanita . Jakarta : Al-Kautsar, 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar